Di mana pun orang senang kalau diberi sesuatu, tetapi kurang bersemangat kalau harus memberi. Memberi berarti pengorbanan, sedangkan yang namanya berkorban pasti ada sesuatu yang harus direlakan hilang dari seseorang yang berkorban. Hal inilah yang membuat seseorang sulit untuk memberi.

Firman Tuhan memerintahkan kepada kita agar kita mau memberi. Memberi kepada orang lain, sama halnya dengan menabur. Sebab Tuhan akan membalas pemberian seseorang dengan berkat-Nya yang berlipat kali ganda.

Kisah Para Rasul 20:35: Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang¬orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan bahwa adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Dalam 2 Korintus 9:7, dinyatakan bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Menjadi orang yang dikasihi oleh Allah adalah sebuah prestasi tertinggi dalam hidup orang percaya. Apakah Anda memiliki tujuan menjadi orang yang dikasihi oleh Allah? Apakah Anda melepaskan apa yang Anda miliki dengan sukacita? Apakah sudah mulai memberi sebagian dari apa yang anda miliki?

Kasih adalah hal yang paling fundamental dalam memberi, sebab arti lain dari memberi adalah mengorbankan. Allah sendiri dikuasai oleh kasih yang besar sehingga ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal (Yoh 3:16).

Jadi, jika Anda memiliki kasih, maka Anda bisa memberi. Tindakan kasih mirip dengan tindakan iman.

Ketika rasul-rasul bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus, mereka berkata kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Tetapi Tuhan menjawab mereka: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Luk 17:5,6).

Artinya, apa yang mau ditambahkan sebab memang mereka tidak ada iman sama sekali. Kasih selalu mengarah pada sukacita. Tanpa kasih, Anda akan bersungut-sungut.

Memberi, bukanlah soal besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, melainkan apakah Anda memberi karena dorongan kasih.

Pemberian janda miskin dalam Lukas 21 hanya dua peser (=1 sen/duit, mata uang yang paling kecil), tetapi Yesus memperhitungkannya besar. Janda itu melakukannya atas dorongan kasihnya kepada Allah sebab ia menyadari bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari hidup yang dia miliki, maka dengan memberi seluruh miliknya, hal itu menjadi pertanda penyerahan hidup sepenuhnya.

Sebab soal memberi sangat erat hubungannya dengan harta milik, dan harta milik itu seringkali dibaca dengan uang. Tetapi, jika Anda melepaskan uang Anda, maka Anda akan bersukacita. Sebaliknya, jika Anda menahan uang Anda, maka Anda menahan sukacita, Anda tidak dapat bersukacita.

Sukacita yang sejati hanya dapat diperoleh dalam Yesus. Jika Anda telah menerima Yesus, itu artinya Anda telah memperoleh segala galanya, baik yang di surga (ahli waris kerajaan), maupun yang di bumi sebab kuasa itu telah diberikan kepada Yesus dan Yesus sendiri telah berjanji bahwa orang-orang yang mengikut Dia mendapatkan semua itu selagi di bumi (Markus 10:30).

Jadi ini hukum untuk mendapatkan sukacita yang sejati: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:33-34).

Artinya:

  1. Dahulukan kerajaan Allah.
  2. Berhenti untuk kuatir. Rahasianya adalah penyangkalan diri. Penyangkalan diri tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlalu sibuk untuk kesenangan dirinya. Manusia pada umumnya terikat dengan sikap mementingkan diri sendiri. Inilah yang dikatakan Paulus kepada jemaat Filipi “…sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus” (Fil 2:21).

Dalam daftarnya, menjadi hamba uang adalah urutan kedua setelah keegoisan. Seseorang bisa merdeka dari perbudakan harta (uang), jika ia sudah melepaskan uang dan memegang Yesus.

Anda tidak bisa memegang keduanya, sebab jalan Yesus berbeda dengan jalan uang. Memegang (menerima) Yesus berarti melepaskan uang. Sebaliknya memegang uang berarti melepaskan Yesus.

Jadi, bagaimana? Anda mau pegang yang mana? Memegang Yesus, maka akan ada sukacita sejati dan kekal.

Memegang uang akan ada sukacita palsu dan sementara. Berikanlah juga hidupmu kepada saudara-saudara seiman dengan sukacita.

Dan selanjutnya, berikanlah semuanya untuk keselamatan dunia, sama seperti Tuhan kita menyerahkan hidupnya bagi kita ketika kita masih berdosa.

Tuhan Yesus memberkati.

Pembina
Pdt. Ir. E.R. Situmorang,M.Div

Tinggalkan Balasan